Jumat, 09 Maret 2012

makalah flow sheet

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam menjalankan tugasnnya, bidan dituntut untuk memberikan asuhan kebidanan dan mendokumentasikannya. Banyak sekali waktu yang dibutuhkan untuk mendokumentasikan sernua asuhan yang telah diberikan oleh seorang bidan. Untuk mengurangi beban dan banyaknya waktu yang dibutuhkan bidan untuk melakur;an pencatatan secara naratif, dibuatlah teknik pencatatan lembar alur. Lembar alur atau flowsheet dan checklist ini digunakan untuk mengumpulkan hasil pengkajian data dan mendokumentasikan implementasi kebidanan. Jika lembar alur ini dipergunakan dengan tepat, maka akan banyak menghemat waktu bidan untuk mencatat.
Pendokumentasian hasil pengkajian data dan asuhan yang bersifat rutin akan menghabiskan banyak waktu bidan. Data yang bersifat rutin ini dapat didokumentasikan secara ringkas dengan menggunakan lembar alur. Penting di sini untuk tidak menulis ulang data di dalam lembar alur ke dalam catatan perkembangan, karena sama saja hal ini akan mengabaikan tujuan pembuatan lembar alur dan melakukan pekerjaan yang sia-sia.
Tujuan pencatatan menggunakan teknik lembar alur ini antara lain yaitu untuk kecepatan dan efisiensi pendokumentasian data dan asuhan, menggabungkan data yang jika tidak dikumpulkan akan tersebar dalam rekam medis pasien, mempermudah kontinuitas asuhan, mengurangi duplikasi dalam pencatatan, melindungi aspek legal pasien dan bidan, dapat melakukan pengkajian data pasien dengan cepat, mudah membandingkan data pasien dan mendokumentasikan informasi yang akan digunakan dalam mengevaluasi keefektivan asuhan.
Format pencatatan dalam lembar alur kebanyakan berupa grafik atau cheklist. Data yang bisa didokumentasikan yaitu pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari, kebutuhan asuhan kebidanan, tanda-tanda vital, monitor keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, nutrisi, pengkajian kulit dan sistem tubuh, kadar glukose urine dan darah. Lembar alur juga bisa digunakan untuk mendokumentasikan hasil observasi dan tindakan kebidanan, kaitannya dengan data dasar, catatan pengobatan, KIE serta catatan perkembangan.
B.    Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui definisi tekhnik pendokumentasian model checklist
2.    Mengetahui keuntungan dan kerugian dalam model pendokumentasian bentuk chechlist.
3.    Mengetahui tatacara dalam penulisan model checklist atau flow sheet.
C.    Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN       
A.    Latar Belakang       
B.    Tujuan Penulisan       
C.    Sistematika Penulisan       
   
BAB II PEMBAHASAN
A.    Definisi Pendokumentasian Teknik Cheklist/Flow Sheet
B.    Keuntungan dan Kerugian Teknik Checklist
C.    Desain dan Syarat Standar dari Teknik Cheklist/Flow Sheet
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan   
B.    Saran
Daftar Pustaka
Lampiran













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Pendokumentasian Teknik Cheklist/Flow Sheet
Flow sheet atau checklist merupakan salah satu bentuk catatan perkembangan yang berisi hasil observasi dan tindakan. Flow sheet memungkinkan petugas untuk mencatat hasil observasi atau pengukuran yang dilakukan secara berulang yang tidak perlu ditulis secara narative, termasuk data klinik klien. Flow sheet merupakan cara tercepat dan paling efisien untuk mencatat informasi, selain itu tenaga kesehatan akan dengan mudah mengetahui keadaan klien hanya dengan melihat gravik yang terdapat pada flow sheet. Flow sheet atau checklist biasanya lebih sering digunakan di unit gawat darurat.
Format pencatatan dalam lembar alur kebanyakan berupa grafik atau cheklist. Data yang bisa didokumentasikan yaitu pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari, kebutuhan asuhan kebidanan, tanda-tanda vital, monitor keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, nutrisi, pengkajian kulit dan sistem tubuh serta kadar glukose urine dan darah.
Lembar alur juga bisa digunakan untuk mendokumentasikan hasil observasi dan tindakan kebidanan, kaitannya dengan data dasar, catatan pengobatan, KIE dan catatan perkembangan.


B.    Keuntungan dan Kerugian Pendokumentasian Teknik Checklist
Pada hakikatnya ada beberapa keuntungan dan kerugian dalam pendokumentasian model checklist ini. Antara lain sebagai berikut:
    Keuntungan :
1.    Meningkatkan kualitas pencatatan observasi
2.    Memperkuat aspek legal
3.    Memperkuat atau menghargai standar asuhan
4.    Menjadikan dokumentasi kebidanan lebih tepat
5.    Mengurangi fragmentasi data pasien dan asuhan
6.    Membatasi narasi yang terlalu luas
7.     Mudah dibaca
8.     Perbandingan data dari beberapa kkt dapat ditingkatkan
    Kekurangan :
1.    Memperluas catatan medik dan menciptakan penggunaan penyimpanan
2.    Memungkinkan duplikasi data, rancangan dan format
3.    Tidak ada ruang untuk pencatatan tentang kejadian yang tidak biasa terjadi dan bertahan untuk menggunakan lembar alur
4.    Medical record menjadi lebih luas
C. Desain dan Syarat Standar dari Teknik Cheklist/Flow Sheet
Desain dan bagian umum dalam pendokumentasian bentuk checklist dan flow sheet antara lain terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1.    Kolom untuk nama petugas yang melakukan pemeriksaan atau tindakan.
2.    Hasil pengkajian, KIE, observasi, tindakan, dan lain-lain.
3.    Hasil observasi atau intervensi khusus.
4.    Nama pasien, waktu (tanggal, bulan dan tahun), nama bidan dan tanda tangan.
5.    Hanya menuliskan judul tindakan, sedangkan penjabaran lebih lanjut diuraikan secara narasi. Misalnya: mengobati luka bakar. Ganti balutan lihat pada catatan perkembangan.
Menurut Iyer and Camp (2005) proses merancang lembar alur dengan tepat sangat bervariasi. Beberapa anjuran umum dalam merancang sebuah lembar alur adalah :
1.    Tentukan seberapa banyak ruangan yang diperlukan untuk isi format.
2.    Rancang sebuah format yang mudah dibaca dan digunakan.
3.    Tentukan apakah format tersebut akan digunakan secara vertikal atau horisontal.
4.    Gunakan huruf yang dicetak tebal dan miring untuk menekailkan judul bagian atau informasi penting lainnya.
5.    Pertimbangkan untuk memberi jarak antar informasi.
6.    Tentukan apakah format tersebut akan lebih dari satu halaman.
7.    Pertimbangkan apakah informasi dalam format tersebut akan dikomunikasikan antar bagian.
8.    Sediakan lembar alur kosong untuk masing-masing pasien agar memungkinkan individualisasi data dan pendokumentasian asuhan pada pasien.
9.    Jika catatan perkembangan rnultidisiplin tidak digunakan, pertimbangkan pemberian ruang kosong untuk catatan - ¬catatan tersebut di halaman sebaliknya lembar alur tersebut.
10.    Pertahankan struktur dasar format lembar alur untuk menggambarkan standar asuhan yang diberikan kepada pasien adalah sama.
11.    Berfikir global saat membuat atau merevisi sebuah format, hindari merancang format tanpa berkonsultasi ke profesi/unit lain.
12.    Libatkan staf sistem informasi komputer untuk meninjau ulang konsep lembar alur.
13.    Dapatkan masukan dari anggota staf yang akan menggunakan format tersebut.
14.    Lakukan koreksi awal secara cermat terhadap format yang telah dibuat.
15.    Harus disadari bahwa pembuatan dan penerapan format lembar alur membutuhkan waktu lama, sehingga perlu alokasi waktu yang cukup.
Agar lembar alur/flow sheet/ceklist sesuai dengan standar, maka harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1.    Perhatikan dan ikuti petunjuk menggunakan format khusus.
2.    Lengkapi format dengan kata kunci.
3.    Gunakan tanda cek (V) atau (X) pada waktu mengidentifikasi bahwa parameter telah diobservasi / di intervensi.
4.    Jangan tinggalkan lembar checklist dalam keadaan kosong. Tulis O untuk mengidentifikasi bahwa parameter tidak diobservasi.
5.    Tambahkan uraian secara detail jika diperlukan.
6.    Pertahankan agar letak lembar alur tepat di lokasi yang tersedia (Rekam Medis).
7.     Beri tanda tangan dan nama jelas perberi asuhan.
8.    Dokumentasikan waktu dan tanggal data masuk.
Contoh pendokumentasian Flow Sheet
Tanggal
Waktu    03/10/2011
Jam 07.00    03/10/2011
Jam 15.30    03/10/2011
Jam 21.00
Kriteria luka    A    P    A    P    A    P
Ukuran luka                       
Jaringan nikrotik                       
Jaringan nekrotik yang lekat                       
Bau kotor                       
Kelembutan batas/tepi luka                       
Temperature kulit                       
Frekuensi ganti balutan per shift                       
Tambahan balutan per shift                       
Pengobatan luka                       
(Sumber Hidayat. 2002)
Keterangan
A : Tidak ada
P : Ada

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Cheklist/Flowsheet merupakan salah satu bentuk catatan perkembangan yang berisi hasil observasi dan tindakan. Flow sheet memungkinkan petugas untuk mencatat hasil observasi atau pengukuran yang dilakukan secara berulang yang tidak perlu ditulis secara narative, termasuk data klinik klien. Flow sheet merupakan cara tercepat dan paling efisien untuk mencatat informasi, selain itu tenaga kesehatan akan dengan mudah mengetahui keadaan klien hanya dengan melihat gravik yang terdapat pada flow sheet. Flow sheet atau checklist biasanya lebih sering digunakan di unit gawat darurat.
B.    Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis dengan rendah hati menerima saran dan kritik guna memperbaiki kekurangan maupaun kesalahan dalam pembuatan makalah ini.







DAFTAR PUSTAKA

Wildan. Hidayat. 2008. Dokumentasi Kebidanan. Salemba Medika : Surabaya
http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/12/21/dokumentasi-asuhan-kebidanan/. Tanggal 28 september 2011. Jam 13:10
http://materibidan.blogspot.com/2010/10/teknik-pendokumentasian.htmlB.Flow Sheet dan Checklist. tanggal 28 september 2011. Jam 13:12

Selasa, 28 Februari 2012

ASUHAN KEBIDANAN II PERSALINAN “Mengkaji Riwayat Kesehatan Pada Kala I”

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
    Pada ibu hamil banyak terjadi perubahan,baik fisik maupun psikologis. Perubahan psikologis selama persalinan perlu diketahui oleh penolong persalinan dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendamping atau penolong persalinan. Berdasarkan hasil penelitian, pemebrian dukungan fisik, emosional dan psikologis selama persalinan akan dapat membantu mempercepat proses persalinan dan membantu ibu memperoleh kepuasan dalam melalui proses persalinan normal. Walaupun 85% persalinan berjalan normal, namun 15 %-nya dijumpai komplikasi yang memerlukan penanganan khusus. Antenatal care yang baik dapat mencegah komplikasi. Masalah dinegara berkembang adalah tentang fasilitas rumah sakit, ketengan, sosio-budaya dan sosio-medis masih memegang peranan dibandingkan dengan Negara-negara maju.
    Metode mengurangi rasa nyeri yang dilakukan secara terus menerus dalam bentuk dukungan harus dipilih yang bersifat sederhana, biaya rendah, resiko renedah, membantu kemajuan persalinan, hasil kelahiran bertambah baik dan bersifat sayang ibu.
    Dimulainya proses persalinan yang ditandai dengan adanya kontraksi yang teratur, adekuat dan menyebabkan perubahan pada serviks hingga mencapai pembukaan lengkap.

B.    Tujuan Penulisan
    Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan definisi perubahan fisiologis dan psikologis pada kala 1 yaitu bagaimana cara kita sebagai bidan mengidentifikasi masalah yang terjadi pada pasien, riwayat kesehatan pasien..
C.    Manfaat Penulisan
    Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa tentang bagaimana perubahan fisiologis dan psikologis pada kala 1, dan mengkaji  riwayat kesehatan  sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran agar dapat diterapkan dalam lahan praktek pelayanan kebidanan.
D.    Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN       
A.    Latar Belakang       
B.    Tujuan Penulisan   
C.    Manfaat Penulisan    
D.    Sistematika Penulisan       
BAB II TINJAUAN TEORI
A.    Uraian materi       
BAB III PEMBAHASAN
A.    Perubahan Fisiologis dan Psikologis Pada Kala I
B.    Mengkaji riwayat kesehatan
C.    Riwayat kesehatan yang harus diperhatikan

BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan   
B.    Saran
Glosarium
Daftar Pustaka
Lampiran

BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Uraian Materi
    Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dan rahim ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 rninggu) tanpa disertai adanya penyulit.
    Persalinan dimulai (inpartu) pada saat uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan pada serviks.
    Pada seorang primigravida aterm umumnya kepala janin sudah masuk PAP pada kehamilan 36 minggu, sedangkan pada multigravida baru pada kehamilan 38 minggu. Pada kala I, apabila kepala janin telah masuk sebagian ke dalam PAP serta ketuban belum pecah, tidak ada keberatan wanita tersebut duduk atau berjalan-jalan di sekitar kamar bersalin. Tetapi umumnya wanita tersebut lebih suka berbaring karena sakit ketika ada his. Berbaring sebaiknya ke sisi, tempat punggung janin berada. Cara ini mempermudah turunnya kepala dan putaran paksi dalam. Apabila kepala janin belum turun ke dalam pintu atas panggul, sebaiknya wanita tersebut berbaring terlentang, karena bila ketuban pecah, mungkin terjadi komplikasi-komplikasi, seperti prolaps tali pusat, prolaps tangan, dan sebagainya. Apabila his sudah sering dan ketuban sudah pecah, wanita tersebut harus berbaring. Pemeriksaan luar untuk menentukan letak janin dan turunnya kepala hendaknya dilakukan untuk memeriksa kemajuan partus, di samping dapat dilakukan pula pemeriksaan rectal atau per vaginam. Hasil pemeriksaan per vaginam harus menyokong dan lebih merinci apa yang dihasilkan oleh pemeriksaan luar. (Wiknjosastro, 2005 : 192).
    Asuhan sayang ibu yang baik dan aman selama persalinan memerlukan: anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama. Pertama, sapa ibu dan beritahukan apa yang akan anda lakukan. Jelaskan pada ibu tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh ibu. Selama anamnesis dan pemeriksaan fisik, perhatikan tanda-tanda penyulit atau gawat darurat dan segera lakukan tindakan yang sesuai bila diperlukan untuk memastikan persalinan yang aman. Catat semua temuan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara seksama dan Iengkap. Kemudian jelaskan hasil pemeriksaan dan kesimpulannya pada ibu dan keluarganya.








BAB III
PEMBAHASAN

A.    Perubahan Fisiologis dan Psikologis Pada Kala I
1.    Perubahan Fisiologis
Beberapa perubahan  fisiologis yang terjadi pada masa persalinan, yaitu:
•    Tekanan Darah
Tekanan Darah akan meningkat, sistolik rata-rata naik 10-20mmHg, diastolik 5-10mmHg, antara kontraksi tekanan darah normal. rasa sakit, cemas, dapat meningkatkan tekanan darah.
•    Metabolisme                                                                                                  Metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob akan meningkat secara berangsur disebabkan oleh kecemasan dan aktivitas otot skeletal. peningkatan ini ditandai adanya peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, kardiak output, pernafasan dan cairan yanghilang.
•    Suhu tubuh                                                                                                    Suhu tubuh sedikit meningkat (tidak lebih dari 0,5-1C) karena peningkatan metabolisme terutama selama dan segera setelah persalinan.
•     Detak Jantung
Detak jantung akan meningkat cepat selama kontraksi berkaitan juga dengan peningkatan metabolisme. sedangkan antara kontraksi detak jantung mengalami peningkatan sedikit dibanding sebelum persalinan.
•    Pernafasan
Terjadi peningkatan laju pernafasan berhubungan dengan peningkatan metabolisme. hipeventilasi yang lama dapat menyebabkan alkalosis.
•    Perubahan pada ginjal
Poliuri(jumlah urin lebih dari normal) sering terjadi selama persalinan, disebabkan oleh peningkatan kardiak output, peningkatan filtrasi glomerulus dan peningkatan aliran plasma ginjal. proteinuria dianggap gejala normal selama persalinan.
•    Perubahan Gastro Intestinal (GI)
Motilitas lambung dan absorbsi makanan padat secara substansial berkurang banyak selama persalian. pengeluaramn getah lambung berkurang, menyebabkan aktivitas pencernaan hampir berhenti dan pengosongan lambung menjadi lambat. cairan tidak berpengaruh dan meninggalkan perut dalam tempo yang biasa. mual dan muntah sering terjadi sampai akhir kala I.
•    Perubahan Hematologi
Hemoglobin meningkat sampai 1,2 gram/100ml selama persalianan dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum persalinan sehari setelah pasca persalinan kecuali pada perdarahan postpartum.

2.    Perubahan Psikologis
Perubahan psikologis pada kala I dipengaruhi oleh:
•    Pengalaman sebelumnya
•    Kesiapan emosi
•    Persiapan menghadapi persalinan (fisik, mental, materi dsb)
•    Support sistem
•    Lingkungan
•    Mekanisme koping
•    Kultur
•    Sikap terhadap kehamilan
3.    Masalah psikologis yang mungkin terjadi:
    Kecemasan menghadapi persalinan
    Intervensinya: kaji penyebab kecemasan, orientasikan ibu terhadap lingkungan , pantau tanda vital (tekanan darah dan nadi), ajarkan teknik relaksasi, pengaturan nafas untuk memfasilitasi rasa nyeri akibat kontraksi uterus.
    Kurang pengetahuan tentang proses persalinan
    Intervensinya: kaji tingkat pengetahuan, beri informasi tentang proses persalinan dan pertolongan persalinan yang akan dilakukan, informed consent.
    Kemampuan mengontrol diri menurun (pada kala I fase aktif)
    Intervensinya: berikan support emosi dan fisik, libatkan keluarga (suami) untuk selalu mendampingi selama proses persalinan berlangsung
    Melakukan pendekatan treapeutik pada ibu hamil yang akan melahirkan pada kala I pada ibu yang mengalami gangguan psikis.
B.    Mengkaji riwayat kesehatan
Mengidentifikasi Masalah
•    Mengkaji Riwayat Kesehatan
1.    Meninjau kartu antenatal
    Usia kehamilan
    Masalah/komplikasi dengan kehamilan yang sekarang
    Riwayat kehamilan yang terdahulu
2.    Menanyakan riwayat persalinan
    Bagaimana perasaan ibu
    Berapa bulan kehamilan ibu sekarang
    Kapan ibu mulai merasakan nyeri?
    Seberapa sering rasa nyeri terjadi? Dan berapa lama berlangsung? Seberapa kuat rasa nyeri tersebut?
    Apakah ibu memperhatikan adanya lendir darah
    Apakah ibu mengalami perdarahan dari vagina
    Apakah ibu melihat adanya aliran/semburan cairan? Jika ya, kapan? Bagaimana warnanya? Berapa banyak?
    Apakah bayi bergerak?
    Kapan terakhir ibu buang air besar? Kencing?
    Persalinan terdahulu: berapa lama berlangsung? Berat badan bayi?

C.    Riwayat kesehatan yang harus diperhatikan
    Pernah bedah sesar (sectio cesarea)
Asuhan kebidanan
1.    Segara rujuk ke fasilitas yang mempunyai kemampuan untuk melakukan bedah sesar.
2.    Dampingi ibu ke tempat rujukan, berikan dukungan dan semangat.
    Riwayat perdarahan berulang
    Prematuritas  atau tidak cukup bulan
    Ketuban pecah dini (ketuban pecah sebelum waktunya)
    Pewarnaan mekonium cairan ketuban
    Infeksi ante atau intrapartum
    Hipertensi yaitu tekanan darah lebih dari 160/ 110 dan/atau terdapat protein dalam urin (preeklampsia berat)
Asuhan
1.    Baringkan ibu miring ke kiri.
2.    Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau cairan garam fisio logis (NS).
3.    Jika mungkin berikan dosis awal 4 g MgSO4 20% IV selama 20 menit.
4.    Suntikan 10 g MgSO4 50% (5 g IM pada bokong kiri dan kanan).
5.    Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kapabilitas asuhan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
6.    Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.
    Tinggi badan dibawah 140 (resiko panggul sempit)
    Adanya gawat janin
    Primipara dengan bagian terbawah masih tinggi
    Malpresentasi atau malposisi
Asuhan
1.    Baringkan ibu miring ke kiri.
2.    Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pena talaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
3.    Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan dan semangat.
    Tali pusat menumbung
Asuhan
1.    Gunakan sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi, letakkan satu tangan di vagina dan jauhkan kepala janin dari tali pusat janin. Gunakan tangan yang lain pada abdomen untuk membantu menggeser bayi dan menolong hagian terbawah bayi tidak menekan tali pusatnya (keluarga mungkin dapat membantu).
2.    Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan penatalaksanaan kegawatdaruratan obstetni dan bayi baru lahir.
3.    Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.
    Keadaan umum jelek atau syok
Asuhan
1.    baringkan ibu miring ke kiri.
2.    Jika mungkin naikkan kedua kak ibu untuk meningkatkan aliran darah ke jantung.
3.    Pasang infus menggunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18) dan berikan Ringer Laktat atau cairan garam fisiologis (NS). Infuskan 1 liter dalam waktu 15-20 menit; jika mungkin infuskan 2 liter dalam waktu satu jam pertama, kemudian turunkan tetesan menjadi 125 ml/jam.
4.    Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pena- talaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
5.    Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan semangat serta dukungan.
    Inersia uteri atau fase laten memanjang
•    pembukaan serviks kurang dari 4 cm setelah 8 jam
•    kontraksi teratur (lebih dari 2 dalam 10 menit)
Asuhan
1.    Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kapabilitas kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
2.    Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.
    Partus lama
•    Pembukaan serviks meng-arah ke sebelah kanan garis waspada (partograf)
•    Pembukaan serviks kurang dari 1 cm per jam
•    Kurang dari 2 kontraksi dalam wak tu 10 menit, masing-masing berlangsung kurang dari 40 detik.
Asuhan kebidanan
1.    Segera rujuk ibu ke fasilitas yang memiliki kemampuan pena- talaksanaan kegawatdaruratan obstetri dan bayi baru lahir.
2.    Dampingi ibu ke tempat rujukan dan berikan dukungan serta semangat.

BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dalam proses persalinan pada kala I banyak hal yang perlu diperhatikan terutama riwayat kesehatan ibu. Hal-Hal tersebut antara lain adalah pernah bedah sesar (sectio cesarea), riwayat perdarahan berulang, prematuritas  atau tidak cukup bulan, ketuban pecah dini (ketuban pecah sebelum waktunya), pewarnaan mekonium cairan ketuban, infeksi ante atau intrapartum, hipertensi, tinggi badan dibawah 140 (resiko panggul sempit), adanya gawat janin, primipara dengan bagian terbawah masih tinggi, malpresentasi atau malposisi, tali pusat menumbung, keadaan umum jelek atau syok, inersia uteri atau fase laten memanjang dan partus lama
B.    Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik maupun saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki makalah ini sebagai pelajaran berikutnya. Apabila terdapat kekurangan dalam makalah ini penulis memohon maaf sebesar-besarnya.

DAFTAR PUSTAKA
•    http://kuecingitem.wordpress.com/2011/03/21/asuhan-persalinan-kala-i/ diakses tanggal 25-9-2011 jam 22:17 wita
•    http://aa-aamas.blogspot.com/2011/03/makalah-asuhan-persalinan.html diakses tanggal 25-9-2011 jam 12:22 wita
•    http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/17/kala-satu-persalinan/ diakses tanggal 25-9-2011 jam 12:10
•    Vaney H. dkk. Buku Ajar Asuhan kebidanan.2006 jakarta : Buku kedokteran EGC

Jumat, 27 Januari 2012

pembengkakan pada wajah & ekstremitas pada ibu nifas


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
           Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (pusdiknakes, 2003). Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti kekeadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari, 2000:122).
           Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali kekeadaan sebelum hamil atau normal. (F.Gary Cunningham, Mac Donald, 1995:281). Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6-12 minggu. (Ibrahim C, 1998).
           70% tubuh manusia terdiri atas air yang sangat penting untuk reaksi metabolisme dalam tubuh. Seringkali tubuh kita mengalami kelebihan cairan tubuh dan tubuh tidak bisa mengeluarkannya. Kelebihan cairan atau edema dapat terjadi di berbagai tempat dalam tubuh. Edema bisa juga dikenal dengan sebagai pembengkakan yang biasanya terjadi di kaki yang juga disebut sebagai edema peripheral, jika terjadi di paru-paru maka akan disebut sebagai edema pulmoner, dan jika terjadi di perut disebut asites.

B.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.    Untuk memenuhi tugas mata kuliah “Asuhan Kebidanan Nifas”.
2.    Untuk membantu mahasiswa memahami pengertian pembengkaan pada wajah dan ekstremitas pada ibu nifas.
3.    Untuk membantu mahasiswa memahami gejala, penyebab, dan penatalaksanaan pembengkakan pada wajah dan ekstermitas pada ibu nifas.

C.    Manfaat Penulisan
Mahasiswa diharapkan dapat mengerti dan memahami mengenai Materi pembengkaan pada wajah dan ekstremitas pada ibu nifas agar dapat di aplikasikan dalam melakukan pelayanan dan pertolongan yang tepat guna.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi
           Pembengkakan pada wajah dan ekremitas merupakan salah satu gejala dari adanya preeklampsi walaupun gejala utamanya adalah protein urine. Hal ini biasanya terjadi pada akhir-akhir kehamilan dan terkadang masih berlanjut sampai ibu postpartum. Oedem dapat terjadi karena peningkatan kadar sodium dikarenakan pengaruh hormonal dan tekanan dari pembesaran uterus pada vena cava inferior ketika berbaring.
           Oedema (oedema) atau sembab merupakan meningkatnya volume cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler (cairan interstitium) yang disertai dengan penimbunan cairan abnormal dalam sela-sela jaringan dan rongga serosa (jarinagn ikat longgar dan rongga badan). Oedema dapat bersifat setempat (local) dan umum (general). Oedema yang bersifat local seperti terjadi hanya di dalam rongga perut (hydroperitoneum atau ascites), rongga dada (hydrothorax), dibawah kulit (oedema subkubitis atau hidops anasarca), pericardium jantung (hydropericardium) atau di dalam paru-paru (oedema pulmonum). Sedangkan oedema yang ditandai dengan terjadinya pengumpulan cairan oedema yang ditandai dengan terjadinya pengumpulan cairan oedema di banyaktempat dinamakan edema umum (general oedema).
           Cairan oedema diberi istilah transundat, memiliki berat jenis dan kadar protein rendah, jernih tidak berwarna atau jernih kekuningan dan merupakan cairan yang encer atau mirip gelatin bila mengandung di dalamnya sejumlah fibrinogen plasma. Jika mengalami edema biasanya akan mudah merasa lelah setelah melakukan aktivitas fisik harian atau ketika berjalan dalam jarak yang dekat. Jika edema ini belum parah maka masih dapat diobati dengan diet dan perubahan gaya hidup.

B.     Tanda-Tanda Pembengkakan Di Wajah Dan Ektremitas Pada Ibu Nifas
1.      Meningkatnya ukuran perut (ascites)
2.      Napas pendek-pendek atau sulit bernapas (pulmonary edema)
3.      Volume air kencing yang dikeluarkan sangat sedikit meskipun minuman air dalam takaran normal harian.
4.      Baju, celana, rok, atau aksesoris yang digunakan terasa sempit
5.      Pada tahapan yang parah, tanda-tanda edema dapat berupa kesulitan bernapas, napas pendek-pendek ketika berbaring, batuk, dan tangan serta kaki jika di sentuh atau dipegang terasa dingin.

C.    Penyebab Terjadinya Pembengkakan Pada Wajah Dan Ektermitas Pada Ibu Nifas
Penyebab (causa) edema adalah adanya kongesti, obstruksi limfatik, permeabilitaskapiler yang bertambah, hipoproteinemia, tekanan osmotic koloid dan retensi natrium dan air. Diantaranya:
1.      Adanya kongesti pada kondisi vena yang terbendung (kongesti), terjadi peningkatan tekanan hidrostatik intra vaskula (tekanan yang mendorong darah mengalir di dalam vaskula oleh kerja pompa jantung) menimbulkan perembesan cairan plasma ke dalam ruang interstitium. Cairan plasma ini akan mengisi pada sela-sela jaringan ikat longgar dan rongga badan 
2.       Obstruksi limfatik apabila terjadi gangguan aliran limfe pada suatu daerah (obstruksi/penyumbatan), maka cairan tubuh yang berasal dari plasma darah dan hasil metabolisme yang masuk ke dalam saluran limfe akan tertimbun (limfedema). Limfedema ini sering terjadi akibat mastek-tomi radikal untuk mengeluarkan tumor ganas pada payudara atau akibat tumor ganas menginfiltrasi kelenjar dan saluran limfe. Selain itu, saluran dan kelenjar inguinal yang meradang akibat infestasi filaria dapat juga menyebabkan edema pada scrotum dan tungkai (penyakit filariasis atau kaki gajah/elephantiasis).
3.      Permeabilitas kapiler yang bertambah Endotel kapiler merupakan suatu membran semi permeabel yang dapat dilalui oleh air dan elektrolit secara bebas, sedangkan protein plasma hanya dapat melaluinya sedikit atau terbatas. Tekanan osmotic darah lebih besar dari pada limfe.
Daya permeabilitas ini bergantung kepada substansi yang mengikat sel-sel endotel tersebut. Pada keadaan tertentu, misalnya akibat pengaruh toksin yang bekerja terhadap endotel, permeabilitas kapiler dapat bertambah. Akibatnya ialah protein plasma keluar kapiler, sehingga tekanan osmotic koloid darah menurun dan sebaliknya tekanan osmotic cairan interstitium bertambah. Hal ini mengakibatkan makin banyak cairan yang meninggalkan kapiler dan menimbulkan edema. Bertambahnya permeabilitas kapiler dapat terjadi pada kondisi infeksi berat dan reaksi anafilaktik.
4.      Hipoproteinemia, menurunnya jumlah protein darah (hipoproteinemia) menimbulkan rendahnya daya ikat air protein plasma yang tersisa, sehingga cairan plasma merembes keluar vaskula sebagai cairan edema. Kondisi hipoproteinemia dapat diakibatkan kehilangan darah secara kronis oleh cacing Haemonchus contortus yang menghisap darah di dalam mukosa lambung kelenjar (abomasum) dan akibat kerusakan pada ginjal yang menimbulkan gejala albuminuria (proteinuria, protein darah albumin keluar bersama urin) berkepanjangan. Hipoproteinemia ini biasanya mengakibatkan edema umum.
5.      Tekanan osmotic koloid, tekanan osmotic koloid dalam jaringan biasanya hanya kecil sekali, sehingga tidak dapat melawan tekanan osmotic yang terdapat dalam darah. Tetapi pada keadaan tertentu jumlah protein dalam jaringan dapat meninggi, misalnya jika permeabilitas kapiler bertambah. Dalam hal ini maka tekanan osmotic jaringan dapat menyebabkan edema.
Filtrasi cairan plasma juga mendapat perlawanan dari tekanan jaringan (tissue tension). Tekanan ini berbeda-beda pada berbagai jaringan. Pada jaringan subcutis yang renggang seperti kelopak mata, tekanan sangat rendah, oleh karena itu pada tempat tersebut mudah timbul edema.
6.      Retensi natrium dan air, retensi natrium terjadi bila eksresi natrium dalam kemih lebih kecil dari pada yang masuk (intake). Karena konsentrasi natrium meninggi maka akan terjadi hipertoni. Hipertoni menyebabkan air ditahan, sehingga jumlah cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler (cairan interstitium) bertambah. Akibatnya terjadi edema.
Retensi natrium dan air dapat diakibatkan oleh factor hormonal (penigkatan aldosteron pada cirrhosis hepatis dan sindrom nefrotik dan pada penderita yang mendapat pengobatan dengan ACTH, testosteron, progesteron atau estrogen).

D.    Penatalaksanaan Pembengkakan Pada Wajah Dan Ekstremitas Pada Ibu Nifas
Cara meringankannya :
1.      Hindari posisi berbaring terlentang
2.      Hindari posisi berdiri untuk waktu yang lama, istirahat dengan berbaring miring kekiri dengan kaki agak ditinggikan
3.      Jika perlu sering melatih kaki untuk ditekuk ketika duduk atau berdiri
4.      Angkat kaki ketika duduk atau beristirahat
5.      Hindari kaos kaki yang ketat
6.      Lakukan senam secara teratur
Bisa dilakukan pemeriksaan seperti :
1.      Periksa adanya varises
2.      Periksa kemerahan pada betis
3.      Periksa apakah tulang kering, pergelangan kaki, kaki oedema


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
           Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (pusdiknakes, 2003).
Pembengkakan pada wajah dan ekremitas merupakan salah satu gejala dari adanya pereklampsi walaupun gejala utamanya adalah protein urine. Edema (oedema) atau sembab merupakan meningkatnya volume cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler (cairan interstitium) yang disertai dengan penimbunan cairan abnormal dalam sela-sela jaringan dan rongga serosa (jarinagn ikat longgar dan rongga badan).
            Tanda-tanda pembengkakan di wajah dan ektremitas pada ibu nifas seperti meningkatnya ukuran perut (ascites), napas pendek-pendek atau sulit bernapas (pulmonary edema), volume air kencing yang dikeluarkan sangat sedikit meskipun minuman air dalam takaran normal harian,baju, celana, rok, atau aksesoris yang digunakan terasa sempit,pada tahapan yang parah, tanda-tanda edema dapat berupa kesulitan bernapas, napas pendek-pendek ketika berbaring, batuk, dan tangan serta kaki jika di sentuh atau dipegang tersa dingin.

           Penyebab (causa) edema adalah adanya kongesti, obstruksi limfatik, permeabilitaskapiler yang bertambah, hipoproteinemia, tekanan osmotic koloid dan retensi natrium dan air.
           Cara meringankannya hindari posisi berbaring terlentang, hindari posisi berdiri untuk waktu yang lama, istirahat dengan berbaring miring kekiri dengan kaki agak ditinggikan, jika perlu sering melatih kaki untuk ditekuk ketika duduk atau berdiri, Angkat kaki ketika duduk atau beristirahat, Hindari kaos kaki yang ketat, dan lakukan senam secara teratur
Bisa dilakukan pemeriksaan seperti eriksa adanya varises, periksa kemerahan pada betis, dan periksa apakah tulang kering, pergelangan kaki, kaki oedema

B.     Saran
Diharapkan kepada Mahasiswa Akademi Kebidanan Kutai Husada Tenggarong bisa memahami dan mengetahui pembengkaan pada wajah atau ekstremitas pada ibu masa nifas dan dapat memberikan asuhan segera pada ibu nifas.







DAFTAR PUSTAKA

1.      Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan  Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. borneo-ufi.blog.friendster.com/2008/07/konsep-nifas-eklamsi-forceps/ diunduh 1 September 2009: 20.00 WIB.
2.      Ibrahim, Christin S. 1993. Perawatan Kebidanan (Perawatan Nifas ). Jakarta : Bharata NiagaMedia. masanifas.blogspot.com/ diunduh 1 September 2009: 20.10 WIB.
3.      Pusdiknakes, 2003. Asuhan Kebidanan  Post Partum. Jakarta: Pusdiknakes.
4.      Saleha, 2009. Asuhan KebidananPadaMasa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
5.      Suherni, 2008. PerawatanMasa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.
6.      http://marry-gi.blogspot.com/2011/11/nifas.html. nifas diakses tanggal 19 desember 2011 jam 09:42 wita.